Overthinking

Kita sering tertawa ketika ada orang yang mengingatkan kita, “eh, kamu itu kok terlalu jauh mikirnya, jadi kepikiran begitu.” Kenyataannya kita kadang tak sadar bahwa kita berpikir di luar porsi yang seharusnya. Pasti ada saat-saat kita berpikir berlebihan. Dampaknya biasanya adalah rasa khawatir atau rasa tidak senang yang muncul di dalam hati.

Saya mendapatkan pengalaman overthinking beberapa kali dalam satu hari yang sama kemarin. Beberapa hal yang seharusnya cukup direspon dengan sewajarnya malah saya pikirkan begitu serius.

Pengalaman pertama di pagi hari terkait dengan pekerjaan. Saya berpikir yang ‘tidak-tidak’ hanya karena merasa gabut alias gaji buta sementara rekan kerja yang lain bekerja dengan penuh. Muncul pikiran apakah saya kurang dipercaya. Padahal di sisi lain harusnya saya bersyukur karena bisa relatif santai hari itu di tempat kerja.

Pengalaman kedua, ada di sore hari. Berpikir tentang masa depan membuat otak berputar tentang apa saja yang bisa saya perbuat supaya mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Ada perasaan ‘kok, duitnya kurang’. Padahal mungkin uangnya mencukupi bila benar-benar bisa mengelolanya dengan baik.

Pengalaman ketiga, muncul di malam hari. Ada suara dering telepon saat saya naik motor. Saya cek sebentar untuk melihat pesan singkatnya. Ada panggilan dari teman yang jarang telepon. Ada masalah apa gerangan? Apakah ada situasi darurat terkait orangtuanya yang sedang sakit? Ternyata setelah sampai rumah, telepon yang ada karena hendak bertanya tentang suatu acara; yang tak begitu mendesak.

Tidak selalu jalan hidup kita lurus dan aman. Ada saat-saat di mana tapak yang dilewati begitu berliku; harus menjalaninya dengan tabah dan sabar. Di lain sisi, ada peristiwa yang membutuhkan pemikiran namun tak sampai harus berpikir berlebihan. Kita sebagai manusia tak perlu menyiksa pikiran dan jiwa dengan hal-hal yang umumnya biasa-biasa saja karena bisa jadi masalahnya tak sebesar yang kita bayangkan. Berpikir berlebihan membuat jiwa tak tenang.

Take it slowly and take a breath“. Cerna dulu informasinya dengan benar. Berpikir dengan porsi yang benar dan tak berlebihan. Kemudian ambil cara respon yang terbaik. Tidak perlu panik dengan ketakutan yang timbul dari imajinasi negatif yang kita munculkan sendiri.

Kemarin adalah hari untuk belajar tentang merespon sesuatu tanpa berpikir berlebihan alias overthinking. It is a good lesson for me.

Crossing the Rubicon

Istilah “Crossing the Rubicon” ini muncul karena tindakan berani yang dilakukan oleh Julius Caesar, jenderal perang yang ambisius dan menjadi seorang pemimpin terkenal dan legendaris di Roma dan dunia.

Saat itu Julius baru saja memenangi perang melawan Bangsa Galia. Perang berakhir setelah Julius bisa menaklukkan sebuah wilayah bernama Alesia, tak jauh dari perbatasan Germania. Namun para senat Roma memanggilnya pulang ke Roma.

Para senat itu takut dengan Julius yang makin populer di mata rakyat Roma. Padahal rakyat Roma menyukai pemimpin yang bisa menaklukkan wilayah baru dan menang perang. Oleh karena itu para senat ingin menyingkirkan Julius.

Para senat mengirimkan mandat supaya Julius meninggalkan posisinya sebagai jenderal perang, pulang ke Roma tanpa tentaranya, dan bersedia diadili karena memutuskan berperang melawan Bangsa Gaia tanpa minta persetujuan dari senat. Intinya, Julius akan kehilangan segala kekuasaan militer, kekayaan, dan posisinya di politik Roma.

Julius menerima panggilan para senat untuk pulang ke Roma. Julius pulang bersama dengan para tentaranya. Jumlahnya besar. RIbuan tentara. Tentara yang sudah kuat dan terlatih karena ditempa oleh perang melawan Bangsa Galia.

Namun ada permintaan khusus dari Senat. Julius harus meninggalkan tentaranya di batas paling utara Italia. Apabila Julius memasuki kota Roma dengan pasukan, tindakannya akan dianggap sebagai upaya untuk makar. Tetap memutuskan untuk masuk beserta tentaranya, pastilah perang saudara tidak akan terelakkan. Tentu Julius akan disambut dengan tentara Roma lainnya yang ingin mempertahankan keamanan republik.

Dalam perjalanan pulang ke Roma, sampailah Julius ke Sungai Rubicon. Sungai yang berada di sebelah utara Italia, tak terlalu jauh dengan kota Roma, alirannya membentang dari barat ke timur. Sungai ini menjadi penanda batas terakhir di mana sang jenderal perang harus meninggalkan tentaranya dan menuju ke Roma tanpa pengawalan tentaranya.

Julius paham bahwa para senat tak menyukai dirinya. Bisa saja para senat mengirimkan orang untuk membunuh Julius, yang tanpa disertai tentaranya yang jumlahnya besar, di tengah jalan.

Julius juga sadar bahwa membawa serta pasukannya memasuki kota Roma sama saja dengan tindakan memberontak dan ingin menguasai Roma dengan kekuatan militernya. Risikonya besar jika akhirnya terjadi perang saudara. Jika Julius kalah, bisa diasingkan ke pulau yang jauh atau dihukum mati.

Ada pergolakan dalam diri Julius. Menghadapi dilema. Julius tahu bahwa dia harus mengambil sebuah keputusan. Julius juga tak bisa menunda-nunda kepulangannya ke kota Roma. Harus memilih di antara dua pilihan dengan segera.

Julius hanya perlu memilih satu dari pilihan yang ada. Pertama, meninggalkan tentaranya dan memasuki kota Roma untuk diadili. Kedua, membawa serta pasukannya memasuki kota Roma dan menghadapi perang saudara.

Di tepi Sungai Rubicon, Julius mengambil keputusan yang mengubah jalan hidupnya sekaligus mengubah jalan sejarah Republik Roma.

Julius memutuskan untuk membawa serta pasukannya yang paling tangguh dan berpengalaman. Ini keputusan berani. Risikonya lebih besar dari pilihan yang lain. Namun, Julius bisa meraih kekuasaan dan kesuksesan yang lebih besar dari apa yang selama ini bisa dia dapatkan. Jika menang perang dan berhasil memasuki kota Roma.

Keputusan itu tidak menjamin keberhasilan Julius. Mirip seperti judi. Bisa saja keputusan tersebut akan menjadi akhir kisah Julius yang tragis. Keputusan itu bisa dianggap seperti sebuah perjudian.

Alea iacta est

Di tepi Sungai Rubicon, Julius mengatakan ini. Alea iacta est. Dalam bahasa Inggris berarti “the die has been cast”. Lebih kurang diartikan sebagai “dadu telah dilempar”.

Pada jaman Romawi, permainan dadu memang populer. Melempar dadu menjadi sebuah simbol untuk melakukan tindakan yang berbahaya namun bisa jadi menjadi sebuah peluang. Ini suatu kesempatan.

Saat Julius telah memutuskan untuk maju terus, tak ada lagi pikiran untuk balik badan. Langkah kaki mantap menuju ke depan. Tak bisa berhenti. Tak bisa mundur. Tak bisa diralat. Sebuah keputusan yang dibuat satu kali saja.

Julius pun harus menghadapi perang saudara dengan melawan pasukan Romawi yang dipimpin oleh Pompey, politisi yang sama-sama memiliki kekuatan militer dan berpengalaman dalam perang. Selepas perang, Julius harus kembali lagi ke Roma untuk membereskan kekacauan karena para Senat dan tentara Romawi meninggalkan kota itu.

Akhirnya setelah berbagai rintangan dan intrik politik, Julius menjadi seorang pemimpin tunggal Roma. Julius menggunakan titel Diktator alih-alih Konsul, dengan begitu Julius bisa segera membuat keputusan menyeluruh tanpa harus direcoki oleh Senat. Preseden ini yang menjadi titik di mana Republik Roma berubah menjadi Kekaisaran Roma.

Julius bukanlah seorang kaisar. Namun namanya, Caesar, dipakai sebagai nama titel pemimpin Romawi berikutnya, yaitu Kaisar Octavianus Augustus dan kaisar-kaisar berikutnya.

Tentang ‘crossing the Rubicon‘, kita tentu juga memiliki momen-momen seperti itu dalam hidup ini. Seseorang harus melewati sebuah batas imajiner dari zona nyamannya. Entah itu keputusan untuk merantau ke tempat yang jauh. Bisa juga dengan tekad untuk getting married. Undur diri dari tempat kerja, membuka usaha sendiri dan menjadi mandiri secara finansial. Menjadi seorang pejabat publik. Memilih sebuah profesi yang ingin ditekuni.

Momen-momen seperti itulah yang harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Setelah keputusan diambil, dilaksanakan dengan segenap hati dan jiwa raga.

Tak ada jaminan keberhasilan. Namun sebuah tindakan harus diambil. Biarkan yang di atas sana yang mengaturnya untuk kita, insan manusia. Kita hanya bisa melakukannya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai impian yang bisa mengubah arah hidup kita.

Let’s cross the Rubicon…

Isoman

Ini dia istilah baru di awal tahun 2021. Isoman. Kependekan dari ‘isolasi mandiri‘.

Isoman ini makin gencar muncul di berbagai media massa dan sosial media. Isoman ini ngetrend karena banyak rumah sakit dan fasilitas isolasi yang tak lagi mampu menampung pasien yang positif Covid-19. Isoman menjadi solusi swadaya masyarakat untuk karantina pribadi. Tak hanya rumah pribadi, banyak orang yang mendapati tes kesehatan sudah positif corona virus juga menginap di hotel atau penginapan yang ditujukan untuk keperluan isoman.

Isoman paling tidak sudah harus bisa memenuhi beberapa syarat. Pertama, orang yang terpapar corona virus bisa beraktivitas di suatu ruangan tanpa harus bertemu orang lain sehingga tak menulari orang lain. Kedua, orang yang melakukan isoman bisa mendapatkan makanan sehari-hari, mencuci baju, dan melakukan aktivitas seperti bekerja di dalam ruangan. Ketiga, ada alat komunikasi yang memadai sehingga orang bisa melakukan isoman dengan tetap memelihara percakapan dengan orang lain di luar tempat isoman. Menjaga komunikasi dengan ‘dunia luar’ membuat orang bisa terjaga kesehatan mentalnya.

Penginapan yang sepi karena tak ada turis yang menginap bisa mengubah penginapan mereka menjadi fasilitas isoman. Tentu protokol kesehatan harus dipenuhi. Biaya tinggal isoman juga disesuaikan. Bila terlalu mahal untuk tinggal selama seminggu atau dua minggu tentu tak ada yang mau menggunakan penginapan tersebut sebagai fasilitas isoman.

Isoman menjadi lebih mudah bila seseorang tinggal di apartemen pribadi atau hidup di rumah sendirian. Namun isoman menjadi tantangan saat seseorang tinggal bersama banyak anggota keluarga di rumah yang relatif sempit.

Salah satu hal yang penting dari isoman adalah kesadaran masyarakat sekitarnya untuk tidak mengganggap mereka yang melakukan isoman sebagai penyebar virus. Justru masyarakat sekitar harus menghargai orang yang mau melakukan isolasi mandiri. Jaga jarak tentu harus dilakukan namun tetap memanusiakan mereka yang secara sadar diri melakukan isoman.

Memiliki

Rasa kepemilikan terhadap sesuatu merupakan hal yang wajar dari setiap insan manusia. Konsep kepemilikan berproses selama ribuan tahun. Makin kompleks kemampuan manusia untuk berpikir, makin besar pula rasa untuk memiliki sesuatu.

Dulu sewaktu jaman eyang-eyang kita, Indonesia berada dalam masa penjajahan. Perang di sana-sini. Sebagian besar orang tak memiliki banyak barang. Hanya raga dan jiwa. Ditambah dengan apa yang didapat hari ini untuk dikonsumsi. Mereka hanya ingin satu hal untuk dimiliki. Yaitu kebebasan untuk hidup tenang. Bisa dimaklumi karena dalam masa kolonial Belanda atau Jepang, orang-orang dipaksa bekerja sampai sakit dan tewas. Dirampok dan dibunuh. Barang mereka disita. Nyawa mereka diambil. Namun begitu orang-orang jaman dulu memiliki satu hal yang paling penting untuk bertahan hidup yaitu harapan.

Menyoal tentang “memiliki” tak mudah. Ada banyak segi yang bisa diulik. Hal memiliki itu relatif rumit. Bahkan karena meributkan hak milik bisa terjadi perselisihan, perkelahian dan perang.

Hak Milik dan Bukti Kepemilikan

Tiap orang tak bisa begitu saja bisa mengklaim bahwa suatu hal itu miliknya. Hak milik harus dibuktikan dengan Bukti Kepemilikan. Misalnya saja kendaraan bermotor. Tiap pengendara harus membawa surat keterangan bahwa kendaraan yang dia kemudikan itu miliknya. STNK menjadi buktinya. Setali tiga uang, pemilik rumah harus bisa memperlihatkan sertifikat tanah dan bangunan bila diperlukan saat transaksi jual beli properti. Tanpa sertifikat, bisa saja mendirikan rumah di sebuah petak kosong. Namun kapan saja bisa diusir dari tempat tersebut karena tak punya bukti kepemilikan.

Merasa Memiliki

Merasa memiliki itu susah-susah gampang. Ambil contoh gadis bernama Mawar punya pacar yang bernama Kumbang. Mereka berpacaran. Mawar merasa memiliki hati Si Kumbang. Mawar berharap Si Kumbang bisa menjaga hatinya. Jangan sampai hati Si Kumbang beralih ke gadis lain. Mawar merasa memiliki hati Si Kumbang. Namun yang namanya hati tak ada yang tahu. Siapa tahu Si Kumbang malah membagi hati. Setengah hati untuk Sang Mawar. Setengah hatinya lagi untuk gadis lain, sebut saja Sang Melati. Uniknya di saat yang sama, baik Sang Mawar dan Sang Melati merasa memiliki hati Si Kumbang. Nah, repot, kan? Merasa memiliki tentu tak selalu berarti benar-benar memiliki.

Mencintai Meski Tak Memiliki

Apakah orang boleh mencintai seseorang meski tak memilikinya (baca: menikahinya secara resmi)? Bisa. Banyak sekali orang yang cinta tanpa bisa hidup bersama. Bisa jadi pasangannya memilih menjadi rohaniwan, selibat atau malah hidup dengan orang lain. Bahkan ada banyak orang yang menyanjung seseorang yang rela mencintai meski tak memiliki. Pasti cinta sejati. Suatu pengorbanan. Tapi tetap saja ada yang kurang. Namanya saja tidak memiliki.

Memiliki Namun Tak Saling Mencintai

Duh. Bagaimana pula ini? Bisa jadi ada dua insan manusia – yang entah bagaimana – hidup bersama. Mungkin dijodohkan oleh kedua orangtuanya. Bisa jadi karena terpaksa bersama daripada sama-sama hidup menyendiri. Bahkan mungkin pula dulunya mereka saling mencintai tetapi seraya waktu asmara memudar. Kemudian hidup bersama dan saling memiliki meski tanpa cinta di antara mereka. Ah, sedih.

Milik Bersama

Ini konsep yang unik bahwa sesuatu hal bisa dimiliki oleh lebih dari satu orang. Misalnya saja taman komunal. Taman di desa yang digunakan bersama-sama oleh warga desa yang rumahnya berada di satu lingkungan. Bisa juga lumbung bersama. Cakruk warga. Intinya banyak orang benar-benar memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menjaga hak milik bersama itu. Di konteks lain, kehidupan rumah tangga poligami bisa juga dianggap sebagai contoh milik bersama. Satu suami memiliki empat istri. Sang suami itu menjadi miilk bersama istri-istri tersebut. Meski biasanya yang merasa memiliki adalah sang suami; yang berpikir bahwa dia memiliki empat istri. Sedangkan istri-istrinya bergantian memiliki suaminya tersebut; sesuai jatah giliran dan kesepakatan.

Menyewa

Rumah Angga kosong. Budi tidak punya rumah. Budi menyewa rumah Angga selama setahun. Budi memiliki hak untuk tinggal tapi tak benar-benar punya hak milik atas rumah Angga. Setelah masa satu tahun, Budi harus pergi dari rumah itu karena masa sewanya sudah selesai. Bila Budi ngotot untuk tinggal selamanya di rumah Angga tentu hal itu menjadi suatu masalah. Dalam hal tersebut, Budi ‘merasa’ memiliki rumah tersebut. Itu salah. Bagaimana pun rumah itu tentu kepunyaan Angga.

Ingin Memiliki

Keinginan untuk memiliki itu hakiki. Salah satu kebutuhan manusia adalah untuk memiliki sesuatu. Sebut saja, Si Anggrek melihat tas yang indah di sebuah rak toko. Sah saja untuk Si Anggrek bila ingin memiliki tas tersebut. Tentu Si Anggrek harus menukar tas itu dengan uang yang dimilikinya. Bila Si Anggrek tak punya uang dan merasa memiliki tas itu lalu membawanya keluar toko tanpa membayar di kasir terlebih dahulu, itu namanya pencurian. Ingin memiliki itu boleh saja. Asalkan masih dalam norma-norma yang disepakati di suatu kelompok masyarakat. Menjadi salah bila Si Kumbang ternyata ingin memiliki Si Mawar padahal Si Mawar sudah punya suami. Nah, lho. Ingin memiliki bisa jadi awal dari penderitaan hidup. Oleh karena itu nafsu untuk memiliki haruslah dikekang. Tak bisa diumbar seenaknya.

Tak Ada yang Abadi di Dunia Ini

Hanya Sang Pencipta yang abadi dalam kehidupan ini. Sedangkan apa yang kita miliki saat ini – cepat atau lambat – sirna ditelan Sang Waktu. Harta benda tujuh turunan bisa habis bahkan sebelum keturunan ketujuh bisa menikmatinya. Rumah, kendaraan, barang elektronik tak bisa dimiliki selama-lamanya. Bisa dijual, hilang, rusak, diambil orang atau lenyap begitu saja. Sepasang suami istri yang saling memiliki tak bisa selama-lamanya bersama. Ada kematian yang memisahkan. Bisa juga WIL/PIL yang menggagalkan perkawinan mereka. Kita lahir tanpa membawa apa pun dan begitu pula kita kembali ke Sang Pencipta; karena nyawa kita pun bukan milik kita. Nyawa kita adalah milik Sang Pencipta.

Tak Memiliki Ingatan

Atau lebih tepatnya kita sebut sebagai kehilangan ingatan. Amnesia. Ribuan momen berharga dan bahagia dalam benak kita bisa hilang begitu saja misalnya karena menabrak tembok. Lupa segalanya. Bahkan nama sendiri saja tak ingat. Seram, kan? Begitu juga dengan kenangan dengan orang yang kita cintai, ingatan tentang hutang yang belum dibayar dan tentunya cara menggunakan toilet atau naik motor. Semuanya bisa hilang seperti data di ponsel yang terhapus karena salah menghapus bagian data. Apa boleh buat, kan?

Memiliki itu Beban

Ironis bahwa memiliki sesuatu itu bisa menjadi beban. Ambil contoh Si Cecep memiliki orangtua yang terkenal sukses. Sebaik apapun Si Cecep bekerja dalam hidupnya dan menjadi orang yang berhasil, banyak orang akan selalu memberinya label: dia berhasil karena orangtuanya orang punya dan berkuasa. Kasihan, kan? Padahal Si Cecep benar-benar mampu bekerja. Beda pula dengan Si Dono yang dulu bapaknya preman di kampung; yang terkenal raja tega dan suka memukuli orang. Meski Si Dono menjadi orang yang alim, bisa jadi karena sejarah kelam bapaknya, Si Dono dijauhi dan dibenci banyak orang. Memiliki sejarah justru menjadi beban tersendiri.

Baiklah, sepertinya sudah cukup mempersoalkan tentang ‘memiliki’. Konsep memiliki bisa jadi berevolusi sesuai dengan perubahan jaman dan konteks pemikiran manusia. Manusia memang makhluk yang unik; yang salah satu ciri khasnya adalah makhluk yang memiliki konsep memiliki yang kuat. Padahal manusia sendiri tak memiliki nyawa dan hidup ini. Nyawa dan hidup ini dimiliki sepenuhnya oleh Sang Pencipta. Manusia hanya merasa memiliki dirinya. Hebatnya lagi banyak manusia yang ingin bisa memiliki umur panjang hingga bisa hidup lebih lama sehingga bisa memiliki lebih banyak hal di dunia ini.

Menyoal Kejujuran

Jujur itu tak mudah. Prosesnya padahal sederhana yaitu mengatakan apa yang terjadi dengan apa adanya. Jujur juga tak selalu memberikan dampak yang positif. Kelihatanya lebih mudah untuk tak jujur ketimbang terbiasa jujur. Entahlah.

Sebuah tulisan di Kompasiana berjudul “Jujur, Mujur atau Ajur?” memberikan penjabaran yang gamblang untuk menentukan untuk lebih baik bersikap jujur atau sebaliknya.

Tiba-tiba saya jadi teringat parfum jaman Soeharto dulu. Mereknya Sweet Honesty. Mungkin kira-kira artinya “kejujuran yang membawa momen yang manis”. Ironis karena bisa jadi orang memakai parfum untuk menutupi bau ketek atau aroma keringat yang menguar.

Silence is Golden

Seorang pujangga bernama Thomas Carlyle menuliskan sebuah idiom dari novelnya yang berjudul Sartor Resartus pada tahun 1831. Seperti inilah bunyinya.

Sprecfienistsilbern, Schweigenistgolden

Dalam bahasa Inggris, sepadan dengan “Speech is silver, Silence is golden.” Berkata-kata memang penting namun kadang-kadang ada waktunya yang mana lebih baik tak mengatakan apapun.

Dalam perjalanan waktu, idiom itu memendek. Lebih popular dengan versi singkatnya. Silence is Golden. Tentu proses idiom yang memendek ini membuat artinya cukup berbeda. Mengartikan bahwa Diam itu Emas. Padahal sebagai insan manusia acap kali masalah dan tantangan bisa terselesaikan lewat sebuah proses bertukar kata yang mewakili pikiran. Banyak hal bisa terpecahkan dengan ngobrol-ngobrol.

Dulu saya suka berdiam diri. Pendiam. Saat itu saya merasa bahwa kurang mampu dalam hal wicara membuat saya kurang pandai bergaul. Banyak hal-hal konyol juga saya alami hanya karena malu bertanya. Berbagai informasi berguna sering terlewat. Diam membuat perkembangan pribadi saya terganggu. Saya tak bisa menyebut Silence is Golden. Malah rugi.

Saat sudah beranjak dewasa, makin lama makin bisa berbicara lebih sering. Menjadi guru bahasa. Merantau. Menjadi agen properti. Membuat saya lebih banyak berbicara. Dari seorang pendiam menjadi orang yang suka berbicara. Ternyata bertukar kata itu sesuatu yang mengasyikkan. Seru. Banyak untungnya.

Anehnya justru saya merasa akhir-akhir ini seharusnya saya lebih banyak diam. Banyak kata-kata yang saya lontarkan membuat orang jadi tak nyaman. Malah kadang melukai hati orang. Tepatlah kata idiom Berbicara itu Perak, Diam itu Emas. Berbicara harus melihat situasi dan suasana.

Baiklah kalau begitu. Bijak berbicara. PR besar menjelang akhir tahun.

Idle Hands

Sebuah ungkapan lawas ini rasanya tetap relevan. Ada nasihat supaya insan manusia menggunakan hidupnya untuk sesuatu yang berguna dan tak sekedar bengong karena selo.

idle hands are the devil’s workshop

Arti harafiahnya. Tangan yang tak mengerjakan apa-apa malah menjadi kesempatan bagi Setan untuk berkarya. Lho?

Tangan hanya mewakili kondisi yang kosong. Bisa jadi tangan digantikan dengan bagian tubuh lainnya. Misal mulut untuk bicara. Juga alat kelamin. Bisa juga dengan otak – yaitu organ tubuh untuk berpikir.

Bisa dibayangkan bila seseorang sedang bengong – bukan karena sedang memikirkan rumus matematika tentunya – bisa jadi malah sedang memikirkan sesuatu yang enggak-enggak. Khawatir dengan sesuatu dan membayangkan konsekuensi terburuk dari pilihan-pilihan jalan cerita. Pikiran negatif membuat perasaan terpuruk. Galau. Menjurus depresi. Limbung.

Otak yang kapasitasnya relatif sama antara satu orang dengan orang lainnya bisa memiliki hasil yang berbeda. Satu orang berpikir hal positif dan fokus memikirkan bagaimana mengusahakan sesuatu yang solutif. Sedangkan orang lainnya memiliki pikiran negatif di mana pikirannya terjebak di titik yang sama tanpa pernah menemukan jalan terang akan masalah yang dihadapi.

Hebatnya lagi otak manusia – yang mana lebih canggih daripada otak hewan – memiliki kemampuan imajinasi tanpa batas. Masalah kecil dengan sentuhan imajinasi bisa menjadi masalah besar yang dibesar-besarkan. Satu hal sepele bisa mendadak menjadi masalah yang lebih kolosal ketimbang masalah negara.

Otak manusia juga bisa menjadi labirin yang memerangkap manusia yang selo. Karena saking selonya, manusia bisa menciptakan lapisan demi lapisan masalah yang rumit seperti kue lapis legit. Salah paham berujung pada ‘kebatinan’ yang benar-benar jauh dari inti masalah sebenarnya.

Maka tak mengherankan bila pepatah “tangan orang yang ga ngapa-ngapain itu auto jadi tangannya setan”.

Berbeda dengan orang yang sibuk bekerja untuk hal-hal yang berguna dan sibuk memikirkan berbagai hal yang positif, mereka ini tak akan sempat tergoda untuk melakukan sesuatu yang sifatnya unfaedah. Justru yang mereka lakukan akan menghasilkan buah yang migunani bagi dirinya dan sesama manusia.

Pernah lihat orang yang tangannya menganggur tiba-tiba asyik ngupil di bis kota? Ya, begitulah adanya bila tangannya nganggur. Bikin ilfil penumpang di sampingnya.

Coba bila tangan yang sama memegang tasbih atau buku. Tentu tindakannya akan lebih berfaedah. Dan Setan pun akan gigit jari karena tak ada kesempatan untuk ‘iseng’ yang unfaedah.

Pikiran pun seperti tangan. Memiliki kapasitas dan kemampuan. Bila selo dan nggak ngapa-ngapain, malah sibuk membuat masalah. Membuat skenario yang berbelit dan liar. Yang mungkin cepat atau lambat menjadi sesuatu yang merugikan diri sendiri.

Selo? Bengong? Waspadalah, Setan selalu rajin memonitor. Bila ada yang ‘nggak ngapa-ngapain’, Setan segera auto menggoda. Serem…

Tiada yang tahu esok hari…

Fernando Pessoa – penulis berkebangsaan Portugis yang lahir di Lisbon pada tahun 1888 ini – menorehkan satu kalimat di sebuah kertas.

I know not what tomorrow will bring.

Fernando Pessoa

Tulisan tersebut ditulis pada tanggal 29 November 1935. Tulisan beliau yang terakhir. Kemudian esoknya beliau meninggal pada tanggal 30 November 1935.

Benar adanya tulisan itu. Tiada yang tahu esok hari.

Manusia merancang hidupnya. Merencanakan ini dan itu. Mencoba untuk membikin jadwal dengan buku agenda. Ada keinginan. Ada asa. Namun tak ada yang tahu kapan seseorang meninggal. Karena hanya Sang Pemilik Hidup yang tahu dan berhak mengambil kehidupan yang telah Dia berikan.

Oleh karena itu tak perlu ada rasa khawatir yang berlebihan. Besok itu urusan besok. Tak perlu terlalu kecewa bahwa besok mungkin tak sebaik hari ini. Tak perlu takut bahwa besok hidup tak lagi berlanjut. Karena kematian itu adalah suatu hal yang pasti adanya.

Justru karena kita tak tahu kapan hari terakhir menikmati hidup di dunia ini, tak berlebihan bila kita bersyukur di tiap pagi saat membuka mata dan menghirup nafas di hari yang baru.

Oleh karena itu mari kita menghidupi dan menikmati hari ini. Dengan sebaik-baiknya. Menyukurinya. Merayakannya.

Menulis Cepat

Ada waktu di mana saya ingin menulis dengan baik. Melakukan curah ide. Membuat garis besarnya. Mengembangkannya. Menulis sebanyak mungkin. Kemudian memotong, mengubah, mengganti bagian yang tak relevan dan tak berguna. Dan terakhir menghaluskannya.

Di saat yang lainnya. Saya juga ingin menulis cepat. Melatih kemampuan menuang ide pada halaman kosong. Tak peduli dengan kualitas. Saya hanya ingin tulisan yang jujur. Terlepas dari baik dan tidaknya. Apa yang tertulis adalah sesuatu yang orisinil. Tertuang begitu saja.

Menulis cepat membuat pikiran bekerja lebih cepat. Namun bisa jadi sangat mengurangi kemampuan memproduksi tulisan yang baik.

Menulis dengan cepat juga menjadi terapi tersendiri. Melepaskan apa yang ada di dalam benak secepat mungkin ke suatu halaman yang dipenuhi dengna kata-kata yang diketikkan dengan secepat jari menari di atas papan kunci.

Ada rasa lega begitu pikiran-pikiran di dalam benak sudah tertuang. Sama seperti orang yang buang air. Tak lagi ditahan. Sudah keluar. Sudah lega.

Menulis cepat juga membuat pikiran tak berputar-putar di hal-hal lainnya yang tak relevan. Hanya terfokus pada satu hal. Yaitu menuangkan apa yang ada dalam pikiran secepat-cepatnya.

Menata Kata

Saat kecil saya kagum dengan orang yang bisa berkata-kata dengan indah. Intonasinya menarik. Bisa menyusun kalimat dengan kalimat dalam untaian makna. Begitu menghipnotis. Mempesona.

Saat itu saya adalah bocah pendiam yang sulit untuk berucap kata. Terlalu minim kata. Namun saya ingin seperti mereka yang pandai berkata-kata.

Seraya waktu saya cukup terobsesi dengan mereka yang pandai bicara. Pun mencoba sebaik saya supaya bisa berbicara lebih aktif dan lebih menarik.

Namun ada sesuatu yang saya rasa tak nyaman. Makin lama makin paham bahwa mereka yang mahir berkata-kata ada yang kemudian tergelincir untuk memanipulasi orang lain. Mencuci otak. Mempengaruhi. Menghasut. Memainkan narasi bicara untuk agenda pribadi.

Tentu tak semua orang seperti itu. Ada banyak orang yang hebat berbicara dan memanfaatkan talentanya tersebut untuk banyak kebaikan dalam kehidupan. Menyadarkan banyak orang. Mengajar berbagai keterampilan. Mengkomunikasikan banyak hal yang migunani bagi banyak orang.

Ada batas antara menggunakan kemampuan berkata-kata untuk kebaikan sesama dengan memelintir kata untuk kepentingan yang tak baik.

Ada orang hebat yang mampu berbicara dengan baik dan sekaligus jujur. Namun ada juga yang memanipulasi orang lain dengan keahlian memainkan kata.

Menata kata merupakan sebuah kemampuan. Kemampuan yang bagaikan pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan sesama. Bisa juga untuk kepentingan yang tujuannya buruk.

Sebaliknya di saat yang sama. Orang yang tak pandai bicara boleh jadi sosok yang jujur. Tak perlu memainkan kata. Hanya memakai kata seperlunya saja.