Baper, Mager, Gabut

Baiklah. Saya akui bahwa saya kurang tahu bahasa gaul yang kekinian. Kurang update. Bisa jadi karena jarang menengok sosmed. Lebih suka membaca berita luar negeri ketimbang mengasup newsfeed Facebook.

Buktinya saya heran dengan tiga istilah baru yang saya temui di Internet. Baper. Mager. Gabut. Selidik punya selidik ternyata artinya sederhana saja. Saya mendapat jawabannya dari blog Mr. Yellows.

Ternyata baper adalah bawa perasaan. Sensitif yang dilebih-lebihkan. Cenderung lebay.

Sedangkan mager adalah malas gerak. Tak mau beranjak. Juga melakukan kegiatan apapun. Intinya malas.

Untuk gabut sendiri ternyata ga mood. Lebih kurang seperti sedang bete.

Malam ini bertambah pengertian saya mengenai tiga kata gaul tersebut. Hilang rasa penasaran saya.

Pinjaman Uang Untuk Indonesia

Indonesia memang membutuhkan suntikan dana untuk mempercepat jalannya pembangunan. Negara ini juga butuh talangan uang untuk membayar hutang. Tapi apakah bangsa yang tanahnya subur dan memiliki sekian banyak tenaga kerja harus menerima pinjaman uang dari institusi keuangan dunia?

Jawabnya singkat. Tidak perlu pinjaman uang.

Indonesia memerlukan aliran investasi dari luar negeri dan dalam negeri. Bukan pinjaman uang. Saat aliran investasi mengalir lancar, roda perekonomian akan berputar dengan dinamis dan cepat.

Segampang itukah? Tentu saja tidak.

Tapi menerima pinjaman uang juga bukan hal yang gampang. Saat menerima pinjaman uang, suatu negara harus ‘patuh’ dengan aturan yang dibuat oleh pemberi pinjaman. Ketika mengembalikan uang pun juga tak selalu mudah. Pinjaman uang dalam bentuk Dollar Amerika tentu harus dikembalikan dalam mata uang Negara Paman Sam tersebut. Bila saat jatuh tempo, nilai tukar Rupiah jeblok tentu hutang menjadi berkali-lipat jumlahnya. Negara bisa jadi lebih dimiskinkan.

Jadi lebih baik menolak tawaran pinjaman uang?

Ya. Tolak saja. Bukannya memecahkan masalah tapi pinjaman uang bisa melipatgandakan masalah di masa sekarang dan di masa depan.

Apakah Anda ekonom ahli?

Bukan. Bukan ekonom. Tapi asalkan memakai akal sehat pastilah orang-orang waras akan memilih untuk tak menerima tawaran ‘manis’ berupa pinjaman uang; yang dulu pernah membuat Indonesia berada dalam kondisi gawat darurat.

Jadi?

Mari kembali bekerja. Biarkan pemerintah memutuskan yang terbaik untuk rakyat-rakyatnya.

Sugeng Riyadi

Ketika Lebaran datang, sudah umum ketika orang saling mengucapkan salam Idul Fitri. Baik dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Arab.

Namun ada ucapan salam yang unik bagi orang-orang yang memiliki kultur Jawa, khususnya Jawa Tengah. Yaitu Sugeng Riyadi. Intinya sama yaitu mengucapkan selamat Idul Fitri.

Begitu ada orang yang mengucapkan salam tersebut pastilah orang tersebut paham atau memang memunyai kultur Jawa. Sugeng Riyadi memang salam yang sederhana. Menurut saya pribadi jauh lebih mengena.

Oleh karena itu, meskipun terlambat, bolehlah saya mengucapkan salam tersebut bagi Anda yang merayakan Idul Fitri.

Sugeng Riyadi. Maaf lahir dan batin.

Arti Rasuah

Sungguh saya kurang paham dengan arti kata antirasuah yang sering disebut-sebut di berbagai media terkait dengan Komisi Antirasuah. 

Selidik punya selidik ternyata Rasuah sendiri lebih kurang terkait dengan kata korupsi

Sebuah laman blog dari Rubrik Bahasa dengan gamblang menjelaskan detil arti kata rasuah dalam artikel yang gampang dimengerti ini.   

Seyogyanya sebut saja KPK dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Yang jauh lebih jelas artinya oleh lebih banyak orang ketimbang Komisi Antirasuah. 

Kitab Gaul

Seperti laiknya bahasa-bahasa lain di dunia, Bahasa Indonesia pun berkembang setiap saat. Tidak hanya ungkapan dan kosakata baku. Ada juga kata-kata baru yang tercipta karena kreativitas penggunanya sekedar untuk berkomunikasi secara informal atau yang disebut sebagai bahasa gaul.

Kosakata dalam bahasa gaul bisa tercipta dengan cepat, populer dan kemudian cepat pula dilupakan karena sudah dianggap ketinggalan jaman.

Namanya juga bahasa gaul. Tak semua orang mengerti artinya. Bila tak mengerti lalu dianggap kurang gaul. Lucunya bila dengan sengaja bertanya ‘apa sih artinya …?’ justru malah diledek habis-habisan oleh teman-temannya atau orang lain.

Tak perlu khawatir bila memang tak tahu. Ada Kitab Gaul. Sebuah situs yang memang menampilkan kata-kata gaul yang baru, sedang trend atau paling sering digunakan.

Ambil contoh kata-kata seperti ‘kepo’, ‘gws’ dan ‘php’. Kata Kepo sering dipakai di tayangan sinetron untuk tetangga atau teman yang ingin tahu perasaan atau pikiran sang tokoh. Sedangkan GWS dipakai untuk mengirim pesan pendek kepada teman yang sedang sakit. Untuk PHP, ungkapan ini populer karena dipakai di salah satu iklan minuman berenergi.

Jadi bila suatu saat Anda tidak mengerti kata-kata bahasa gaul, tak perlu bertanya ke orang lain dan justru diolok-olok. Cukup buka situs Kitab Gaul.

http://kitabgaul.com

Turunnya Kemampuan Baca

Seberapa cepat Anda mampu membaca buku? Mungkin kecepatan tak lagi menjadi masalah. Tapi bagaimana dengan volume membaca Anda?

Pertanyaan tersebut muncul kala saya mendapati bahwa meskipun saya mampu membaca dengan cepat tapi tak lagi mampu mencerap volume baca sebanyak dulu.

Berbagai artikel bisa saya cerap dengan mudah. Sebaliknya, buku yang tebal tak lagi bisa saya nikmati. Tersengal-sengal rasanya. Baru bagian intro saja pun sudah tertatih-tatih.

Dugaan saya, hal ini dikarenakan tingkat konsentrasi berkurang banyak. Tak dipungkiri, kita terekspos dengan informasi pendek-pendek. SMS, email, artikel berita singkat dan tentu berbagai tayangan interaktif visual terpotong-potong.

Ya, sore ini saya mencoba membaca ebook Teori Darwin. Mulai membaca lalu minat tiba-tiba hilang. Sungguh, kebiasaan membaca buku sudah terabaikan. Bagaimana dengan Anda, apakah masih mampu menuntaskan buku bacaan?

Contreng

Kata yang muncul untuk keperluan pemilihan umum ini memang memancing perdebatan yang panjang. Padahal bisa diganti dengan kata ‘centang’ yang sudah jamak penggunaannya.

Rancu dan membingungkan bila kita bertanya pada banyak orang tentang mencontreng di pemilu kali ini. Banyak yang tak mengerti. Bahkan, tak sedikit yang masih memiliki asumsi untuk mencoblos kertas suara. Jelas hal ini bisa mengakibatkan banyaknya kertas suara yang dianggap tak sah lantaran rusak.

Artikel Kompas bertajuk Kata ‘Contreng’ dari Planet Mana? jelas-jelas mempertanyakan kata contreng yang tak dapat ditemukan di khasanah bahasa Indonesia. Tak sekalipun didapatkan di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Contreng? Ada-ada saja. Entah dengan mencoblos, mencentang atau mencontreng, pastikan saat memilih, Anda pakai nurani dan akal sehat. Bukan karena menerima bingkisan sembako di pagi hari atau nikmatnya goyangan dangdut partai tertentu kala kampanye.