Memiliki

Rasa kepemilikan terhadap sesuatu merupakan hal yang wajar dari setiap insan manusia. Konsep kepemilikan berproses selama ribuan tahun. Makin kompleks kemampuan manusia untuk berpikir, makin besar pula rasa untuk memiliki sesuatu.

Dulu sewaktu jaman eyang-eyang kita, Indonesia berada dalam masa penjajahan. Perang di sana-sini. Sebagian besar orang tak memiliki banyak barang. Hanya raga dan jiwa. Ditambah dengan apa yang didapat hari ini untuk dikonsumsi. Mereka hanya ingin satu hal untuk dimiliki. Yaitu kebebasan untuk hidup tenang. Bisa dimaklumi karena dalam masa kolonial Belanda atau Jepang, orang-orang dipaksa bekerja sampai sakit dan tewas. Dirampok dan dibunuh. Barang mereka disita. Nyawa mereka diambil. Namun begitu orang-orang jaman dulu memiliki satu hal yang paling penting untuk bertahan hidup yaitu harapan.

Menyoal tentang “memiliki” tak mudah. Ada banyak segi yang bisa diulik. Hal memiliki itu relatif rumit. Bahkan karena meributkan hak milik bisa terjadi perselisihan, perkelahian dan perang.

Hak Milik dan Bukti Kepemilikan

Tiap orang tak bisa begitu saja bisa mengklaim bahwa suatu hal itu miliknya. Hak milik harus dibuktikan dengan Bukti Kepemilikan. Misalnya saja kendaraan bermotor. Tiap pengendara harus membawa surat keterangan bahwa kendaraan yang dia kemudikan itu miliknya. STNK menjadi buktinya. Setali tiga uang, pemilik rumah harus bisa memperlihatkan sertifikat tanah dan bangunan bila diperlukan saat transaksi jual beli properti. Tanpa sertifikat, bisa saja mendirikan rumah di sebuah petak kosong. Namun kapan saja bisa diusir dari tempat tersebut karena tak punya bukti kepemilikan.

Merasa Memiliki

Merasa memiliki itu susah-susah gampang. Ambil contoh gadis bernama Mawar punya pacar yang bernama Kumbang. Mereka berpacaran. Mawar merasa memiliki hati Si Kumbang. Mawar berharap Si Kumbang bisa menjaga hatinya. Jangan sampai hati Si Kumbang beralih ke gadis lain. Mawar merasa memiliki hati Si Kumbang. Namun yang namanya hati tak ada yang tahu. Siapa tahu Si Kumbang malah membagi hati. Setengah hati untuk Sang Mawar. Setengah hatinya lagi untuk gadis lain, sebut saja Sang Melati. Uniknya di saat yang sama, baik Sang Mawar dan Sang Melati merasa memiliki hati Si Kumbang. Nah, repot, kan? Merasa memiliki tentu tak selalu berarti benar-benar memiliki.

Mencintai Meski Tak Memiliki

Apakah orang boleh mencintai seseorang meski tak memilikinya (baca: menikahinya secara resmi)? Bisa. Banyak sekali orang yang cinta tanpa bisa hidup bersama. Bisa jadi pasangannya memilih menjadi rohaniwan, selibat atau malah hidup dengan orang lain. Bahkan ada banyak orang yang menyanjung seseorang yang rela mencintai meski tak memiliki. Pasti cinta sejati. Suatu pengorbanan. Tapi tetap saja ada yang kurang. Namanya saja tidak memiliki.

Memiliki Namun Tak Saling Mencintai

Duh. Bagaimana pula ini? Bisa jadi ada dua insan manusia – yang entah bagaimana – hidup bersama. Mungkin dijodohkan oleh kedua orangtuanya. Bisa jadi karena terpaksa bersama daripada sama-sama hidup menyendiri. Bahkan mungkin pula dulunya mereka saling mencintai tetapi seraya waktu asmara memudar. Kemudian hidup bersama dan saling memiliki meski tanpa cinta di antara mereka. Ah, sedih.

Milik Bersama

Ini konsep yang unik bahwa sesuatu hal bisa dimiliki oleh lebih dari satu orang. Misalnya saja taman komunal. Taman di desa yang digunakan bersama-sama oleh warga desa yang rumahnya berada di satu lingkungan. Bisa juga lumbung bersama. Cakruk warga. Intinya banyak orang benar-benar memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menjaga hak milik bersama itu. Di konteks lain, kehidupan rumah tangga poligami bisa juga dianggap sebagai contoh milik bersama. Satu suami memiliki empat istri. Sang suami itu menjadi miilk bersama istri-istri tersebut. Meski biasanya yang merasa memiliki adalah sang suami; yang berpikir bahwa dia memiliki empat istri. Sedangkan istri-istrinya bergantian memiliki suaminya tersebut; sesuai jatah giliran dan kesepakatan.

Menyewa

Rumah Angga kosong. Budi tidak punya rumah. Budi menyewa rumah Angga selama setahun. Budi memiliki hak untuk tinggal tapi tak benar-benar punya hak milik atas rumah Angga. Setelah masa satu tahun, Budi harus pergi dari rumah itu karena masa sewanya sudah selesai. Bila Budi ngotot untuk tinggal selamanya di rumah Angga tentu hal itu menjadi suatu masalah. Dalam hal tersebut, Budi ‘merasa’ memiliki rumah tersebut. Itu salah. Bagaimana pun rumah itu tentu kepunyaan Angga.

Ingin Memiliki

Keinginan untuk memiliki itu hakiki. Salah satu kebutuhan manusia adalah untuk memiliki sesuatu. Sebut saja, Si Anggrek melihat tas yang indah di sebuah rak toko. Sah saja untuk Si Anggrek bila ingin memiliki tas tersebut. Tentu Si Anggrek harus menukar tas itu dengan uang yang dimilikinya. Bila Si Anggrek tak punya uang dan merasa memiliki tas itu lalu membawanya keluar toko tanpa membayar di kasir terlebih dahulu, itu namanya pencurian. Ingin memiliki itu boleh saja. Asalkan masih dalam norma-norma yang disepakati di suatu kelompok masyarakat. Menjadi salah bila Si Kumbang ternyata ingin memiliki Si Mawar padahal Si Mawar sudah punya suami. Nah, lho. Ingin memiliki bisa jadi awal dari penderitaan hidup. Oleh karena itu nafsu untuk memiliki haruslah dikekang. Tak bisa diumbar seenaknya.

Tak Ada yang Abadi di Dunia Ini

Hanya Sang Pencipta yang abadi dalam kehidupan ini. Sedangkan apa yang kita miliki saat ini – cepat atau lambat – sirna ditelan Sang Waktu. Harta benda tujuh turunan bisa habis bahkan sebelum keturunan ketujuh bisa menikmatinya. Rumah, kendaraan, barang elektronik tak bisa dimiliki selama-lamanya. Bisa dijual, hilang, rusak, diambil orang atau lenyap begitu saja. Sepasang suami istri yang saling memiliki tak bisa selama-lamanya bersama. Ada kematian yang memisahkan. Bisa juga WIL/PIL yang menggagalkan perkawinan mereka. Kita lahir tanpa membawa apa pun dan begitu pula kita kembali ke Sang Pencipta; karena nyawa kita pun bukan milik kita. Nyawa kita adalah milik Sang Pencipta.

Tak Memiliki Ingatan

Atau lebih tepatnya kita sebut sebagai kehilangan ingatan. Amnesia. Ribuan momen berharga dan bahagia dalam benak kita bisa hilang begitu saja misalnya karena menabrak tembok. Lupa segalanya. Bahkan nama sendiri saja tak ingat. Seram, kan? Begitu juga dengan kenangan dengan orang yang kita cintai, ingatan tentang hutang yang belum dibayar dan tentunya cara menggunakan toilet atau naik motor. Semuanya bisa hilang seperti data di ponsel yang terhapus karena salah menghapus bagian data. Apa boleh buat, kan?

Memiliki itu Beban

Ironis bahwa memiliki sesuatu itu bisa menjadi beban. Ambil contoh Si Cecep memiliki orangtua yang terkenal sukses. Sebaik apapun Si Cecep bekerja dalam hidupnya dan menjadi orang yang berhasil, banyak orang akan selalu memberinya label: dia berhasil karena orangtuanya orang punya dan berkuasa. Kasihan, kan? Padahal Si Cecep benar-benar mampu bekerja. Beda pula dengan Si Dono yang dulu bapaknya preman di kampung; yang terkenal raja tega dan suka memukuli orang. Meski Si Dono menjadi orang yang alim, bisa jadi karena sejarah kelam bapaknya, Si Dono dijauhi dan dibenci banyak orang. Memiliki sejarah justru menjadi beban tersendiri.

Baiklah, sepertinya sudah cukup mempersoalkan tentang ‘memiliki’. Konsep memiliki bisa jadi berevolusi sesuai dengan perubahan jaman dan konteks pemikiran manusia. Manusia memang makhluk yang unik; yang salah satu ciri khasnya adalah makhluk yang memiliki konsep memiliki yang kuat. Padahal manusia sendiri tak memiliki nyawa dan hidup ini. Nyawa dan hidup ini dimiliki sepenuhnya oleh Sang Pencipta. Manusia hanya merasa memiliki dirinya. Hebatnya lagi banyak manusia yang ingin bisa memiliki umur panjang hingga bisa hidup lebih lama sehingga bisa memiliki lebih banyak hal di dunia ini.

Menyoal Kejujuran

Jujur itu tak mudah. Prosesnya padahal sederhana yaitu mengatakan apa yang terjadi dengan apa adanya. Jujur juga tak selalu memberikan dampak yang positif. Kelihatanya lebih mudah untuk tak jujur ketimbang terbiasa jujur. Entahlah.

Sebuah tulisan di Kompasiana berjudul “Jujur, Mujur atau Ajur?” memberikan penjabaran yang gamblang untuk menentukan untuk lebih baik bersikap jujur atau sebaliknya.

Tiba-tiba saya jadi teringat parfum jaman Soeharto dulu. Mereknya Sweet Honesty. Mungkin kira-kira artinya “kejujuran yang membawa momen yang manis”. Ironis karena bisa jadi orang memakai parfum untuk menutupi bau ketek atau aroma keringat yang menguar.

Silence is Golden

Seorang pujangga bernama Thomas Carlyle menuliskan sebuah idiom dari novelnya yang berjudul Sartor Resartus pada tahun 1831. Seperti inilah bunyinya.

Sprecfienistsilbern, Schweigenistgolden

Dalam bahasa Inggris, sepadan dengan “Speech is silver, Silence is golden.” Berkata-kata memang penting namun kadang-kadang ada waktunya yang mana lebih baik tak mengatakan apapun.

Dalam perjalanan waktu, idiom itu memendek. Lebih popular dengan versi singkatnya. Silence is Golden. Tentu proses idiom yang memendek ini membuat artinya cukup berbeda. Mengartikan bahwa Diam itu Emas. Padahal sebagai insan manusia acap kali masalah dan tantangan bisa terselesaikan lewat sebuah proses bertukar kata yang mewakili pikiran. Banyak hal bisa terpecahkan dengan ngobrol-ngobrol.

Dulu saya suka berdiam diri. Pendiam. Saat itu saya merasa bahwa kurang mampu dalam hal wicara membuat saya kurang pandai bergaul. Banyak hal-hal konyol juga saya alami hanya karena malu bertanya. Berbagai informasi berguna sering terlewat. Diam membuat perkembangan pribadi saya terganggu. Saya tak bisa menyebut Silence is Golden. Malah rugi.

Saat sudah beranjak dewasa, makin lama makin bisa berbicara lebih sering. Menjadi guru bahasa. Merantau. Menjadi agen properti. Membuat saya lebih banyak berbicara. Dari seorang pendiam menjadi orang yang suka berbicara. Ternyata bertukar kata itu sesuatu yang mengasyikkan. Seru. Banyak untungnya.

Anehnya justru saya merasa akhir-akhir ini seharusnya saya lebih banyak diam. Banyak kata-kata yang saya lontarkan membuat orang jadi tak nyaman. Malah kadang melukai hati orang. Tepatlah kata idiom Berbicara itu Perak, Diam itu Emas. Berbicara harus melihat situasi dan suasana.

Baiklah kalau begitu. Bijak berbicara. PR besar menjelang akhir tahun.